Minggu, Juli 21, 2019
Pemerintahan

Memfungsikan Agama untuk Kesatuan dan Persatuan

JAKARTA – Setiap pemeluk agama pasti meyakini bahwa agamanya memiliki kesempurnaan baik dari segi doktrin maupun bagaimana tata cara menjalankannya. Ayat-ayat dalam kitab suci setiap agama, dalam Islam misalnya, pasti diyakini mengandung kebaikan, tanpa cela. Akan tetapi, sesuatu yang sudah sedemikian sempurna seperti agama, justru bisa diperalat oleh orang-orang tertentu yang memiliki ambisi politik, untuk kepentingan politiknya.

“Agama yang sangat baik, menjadi tidak baik pada saat digunakan tidak pada tempatnya,” demikian tegas Abd Rohim Ghazali dalam Seminar Kebangsaan

‘Merefleksikan Nilai-Nilai Kesatuan dan Persatuan dalam Bingkai Keberagaman’ Kamis, 11 Juli 2019 di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan.

Di hadapan 200 lebih mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden itu mengatakan bahwa agama adalah doktrin yang menjadi pegangan hidup dan mengatur semua aspek dalam keseharian kita. Bagaimana cara kita berjalan, diatur dalam agama melalui ayat yang mengatakan, janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan angkuh. Bagaimana cara kita melihat juga diatur agar kita tidak melihat lawan jenis dengan nafsu. Bagaimana kita makan, minum, berbicara, bahkan bagaimana cara berdebat juga diatur oleh agama. Pendeknya, apa pun yang kita butuhkan, diatur oleh agama.

Maka, jika ada nilai yang bisa mempersatukan kita dalam keberagaman, yang utama adalah nilai-nilai yang diajarkan agama. Dalam al-Quran disebutkan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, untuk saling mengenal satu sama lain. Saling mengenal menjadi kata kunci yang mempersatukan keragaman kita. Banyak kebencian mencuat, pertikaian tersulut, disebabkan karena tidak mengenal satu sama lain. “Sikap intoleran dalam beragama, penyebab utamanya karena kurang gaul,” kata Rohim. Karena bergumul hanya dengan orang-orang yang seagama saja. “Kurang ngopi, kata anak-anak zaman now. Karena dalam tradisi ngopi kita bisa berkumpul dengan siapa saja, tanpa membedakan suku, agama, bahasa, dan warna kulit, semua berkumpul dengan kepentingan yang sama, ngopi,” lanjut Rohim yang disambut tawa para hadirin.

Agama Wasathiyah

Agama yang seperti apa yang bisa mempersatukan kita dalam keragaman? Tanya Rohim yang kemudian dijawab sendiri dengan mengatakan bahwa paham agama yang harus kita kembangkan di Indonesia adalah agama wasathiyah, agama tengahan, atau agama yang moderat. Dalam Islam, agama yang moderat ini istilahnya bisa berbeda-beda, selain wasathiyah, ada yang menyebutnya dengan Islam nusantara, ada Islam berkemajuan, dan lain-lain. Apa pun istilahnya, agama wasathiyah memiliki tujuh ciri, pertama  i’tidal, yang artinya tegak lurus, berkeadilan. Asal katanya dari adil. Adil itu proporsional, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Lawan dari adil adalah zalim, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Ajaran agama yang baik, jika ditempatkan bukan pada tempatnya menjadi buruk. Contoh, ayat-ayat perang diterapkan di zona damai. Itu tidak cocok. Bahkan menurut ketua umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, ucapan takbir yang sangat bagus itu, tidak boleh sembarangan diucapkan. Jika tidak tepat waktu dan tempatnya, takbir bisa menjadi alat provokasi yang destruktif.

Ciri yang kedua adalah tawazun, yang artinya menjaga keseimbangan. Fungsi agama adalah untuk menjaga keseimbangan sosial. Kehidupan duniawi diseimbangkan dengan kehidupan ukhrawi. Dalam kehidupan sosial kita mengenal istilah rasio gini, yakni ukuran kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Semakin lebar, semakin buruk. Bisa memicu kebencian, bahkan pertikaian. Islam mengatur agar harta kekayaan tidak berputar-putar di kalangan orang kaya saja. Bagaimana caranya, melalui kewajiban membayar zakat, juga dengan cara berderma, bersedekah. Tawazun juga artinya kita tidak boleh terjebak pada pada pandangan yang ekstrem, baik kiri maupun kanan. Memahami agama secara ekstrem, dilarang oleh agama itu sendiri.

Ciri yang ketiga adalah tasamuh, artinya toleransi, mengakui kemajemukan, menghargai perbedaan dan bersedia hidup berdampingan secara damai. Jangan mentang-mentang mayoritas berbuat semena-mena terhadap minoritas. Kita harus ingat bahwa pada saat kita mayoritas di suatu tempat, belum tentu mayoritas juga di tempat lain. Muhammadiyah adalah contoh yang paling konkret. Bayangkan jika orang Muhammadiyah di Jawa, misalnya, melarang orang Kristen membangun gereja. Apa yang akan terjadi dengan masjid dan asset Muhammadiyah lainnya yang ada di Kupang, di Jayapura, dan di tempat-tempat lain yang Muhammadiyahnya maju tapi di wilayah mayoritas Kristen atau Katolik.

Ciri yang keempat adalah syura, musyawarah. Jika ada masalah, agama mengajarkan musyawarah, bukan marah-marah. Tidak ada masalah yang tidak biksa dimusyawarahkan. Dengan musyawarah, keputusan terbaik bisa dicapai. Seberagam apa pun pendapat kita.

Ciri yang kelima adalah ishlah, konstruktif. Mendorong upaya-upaya yang maslahat, untuk kebaikan bersama, bukan kebaikan orang-perorang atau pun golongan yang bisa memicu kecemburuan.

Ciri yang keenam adalah qudwah, menjadi teladan. Memberi contoh kebaikan untuk lingkungan sekitar. Menjadi teladan dalam melakukan langkah-langkah inovatif untuk kebaikan bersama.

Dan ciri agama wasathiyah yang terakhir adalah muwathonah, yakni kecintaan pada negara dan bangsa.  Apa pun agama yang kita peluk, harus kita jalankan dalam perspektif keindonesiaan. Indonesia adalah negara dengan keragaman luar biasa. Kita bukan hidup di negara Arab yang hampir semua penduduknya Muslim. Bahkan di negara Arab pun mereka membuka diri untuk agama-agama lain. Apalagi kita di Indonesia.

“Dengan menjalankan agama yang baik dan benar, proporsional, menempatkan pada tempatnya yang tepat, tidak memperalat agama untuk kepentingan politik, untuk provokasi, dan hal-hal lain yang destruktif, akan menjadikan kita hidup rukun damai di negeri yang beragam ini,” demikian pungkas Rohim.

abd1

Tinggalkan Balasan