Minggu, April 21, 2019
Pemerintahan

KSP dan OASE KK Gelar Kampanye Cegah Stunting di Sulawesi Selatan

BONE – Periode seribu hari pertama kehidupan menjadi fokus pencegahan stunting karena dampak yang ditimbulkannya bersifat jangka panjang dan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif seseorang. Hal tersebut dikatakan oleh Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden Brian Sri Prahastuti di depan 350 peserta seminar ‘Sosialisasi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia Tingkat Kabupaten Dalam Upaya Pencegahan Stunting’ di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan pada 11 April 2019.

Setelah sukses di Ambon dan Pasaman, Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja atau OASE-KK, bekerjasama dengan Kementerian Desa dan Kantor Staf Presiden, kembali menggelar kegiatan serupa dalam rangka mensosialisasikan upaya pencegahan stunting (dibaca: Stan-ting) di daerah-daerah prioritas. Turut hadir dalam acara ini, Ibu Koesni Harningsih Moeldoko (Pendamping Kepala Staf Kepresidenan), Ibu I Gusti Ayu Bintang Puspayoga (Pendamping Menteri Koperasi dan UMKM), dan Ibu Sri Mega Darmi Sandjojo (Pendamping Menteri Desa dan PDT) selaku perwakilan OASE-KK Bidang II Kesehatan Keluarga.

Bertempat di GOR Matannatikka, sosialisasi pencegahan stunting dibuka oleh Bupati Bone, Andi Fahsar M. Padjalangi. Dalam pidatonya, Bupati Bone menekankan pentingnya peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam upaya menurunkan angka stunting di daerahnya. Berdasarkan data Riskesdas 2013, angka prevalensi stunting di Bone mencapai 43,65%. Menurut Andi Fahsar, walaupun angkanya terus membaik, namun masih cukup tinggi dibandingkan rata-rata nasional sehingga diperlukan usaha yang lebih kuat untuk menekan angka stunting di Kabupaten yang merupakan ‘Kampungnya Menteri’.Seminar dimulai dengan penyampaian materi edukasi oleh perwakilan OASE-KK yang kedatangannya ke tempat acara disambut dengan lantunan lagu ‘Selamat Datang’ oleh para Kader Posyandu, guru PAUD, pengurus PKK, dan perwakilan perangkat daerah lainnya. Pada kesempatan ini, Ibu-ibu OASE-KK menekankan pentingnya memperbaiki pola asuh, mencukupkan asupan nutrisi bagi balita, dan meningkatkan akses terhadap sanitasi yang memadai. Ibu Sri Mega Darmi Sandjojo memaparkan program kerja OASE-fKK Bidang II Yang meliputi sosialisasi IVA test, edukasi pencegahan stunting, dan promosi CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun).

Sesi edukasi berjalan interaktif. Dipandu oleh Ibu-ibu OASE KK, para peserta melakukan demonstrasi cara melakukan cuci tangan yang benar. Acara kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab dimana pertanyaan-pertanyaan seputar layanan posyandu, CTPS, dan sanitasi dilontarkan kepada peserta seminar. Dengan penuh antusiasme, para kader posyandu dan guru-guru PAUD menunjukkan pengetahuan mereka mengenai pencegahan stunting. Pada kesempatan yang sama, Ibu Bintang Puspayoga menghimbau kepada para peserta untuk menggunakan hak pilih mereka karena ‘Satu Suara sangat menentukan untuk Indonesia Maju’. Sebelum meninggalkan tempat acara, Ibu-ibu OASE KK menyerahkan timbangan bayi kepada Ketua TP PKK Kabupaten Bone, Ny. Kurniaty Fahsar, sebagai simbol pemerintah pusat menitipkan anak balita di Kabupaten Bone untuk dipantau pertumbuhan dan perkembangannya agar dapat segera dilakukan tindakan pencegahan dan penanganan stunting jika diperlukan.

Setelah mendengarkan arahan dari perwakilan OASE-KK, para peserta kemudian menjalani kegiatan utama seminar pencegahan stunting yang dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pagi, tim Kantor Staf Presiden yang diwakilkan oleh Brian Sri Prahastuti selaku narasumber, didampingi Tenaga Ahli Madya Akhmad Arsya sani, memaparkan materi terkait komponen-komponen penting dalam pencegahan stunting. Di sesi siang, perwakilan dari Kementerian Desa, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten menyampaikan strategi dan kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pencegahan stunting, baik di tingkat provinsi maupun desa.

Pencegahan Stunting Harus Menyeluruh

Stunting tidak sama dengan gizi buruk,” tegas Brian, meluruskan pemahaman masyarakat yang masih sering menyamakan antara kedua kondisi tersebut. Untuk stunting, tinggi badan menjadi indikator yang membedakannya dengan gizi buruk yang lebih menitikberatkan pengukuran berat badan. Menurut Brian, tinggi badan akan terus mengalami kenaikan dan perubahannya bersifat permanen sementara berat badan dapat berubah dengan cepat tergantung dari asupan makanan.

Lebih lanjut, Brian menyampaikan hasil kinerja pemerintah yang telah berhasil menurunkan angka prevalensi stunting dari 37,2% di 2013 menjadi 30,8% di 2018. Hal ini berarti pemerintah telah menyelamatkan sekitar 1,7 juta balita dari stunting dalam kurun waktu 5 tahun. Namun, upaya perbaikan masih harus terus dilakukan mengingat angkanya yang masih berada diatas batas toleransi World Health Organization. Pencegahan stunting harus dilakukan tidak saja di pedesaan tapi juga perkotaan dan tidak hanya untuk balita dari keluarga miskin. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, 29% balita dari keluarga dengan status sosial-ekonomi tertinggi kondisinya stunting. Turut mengisi di sesi ini, perwakilan Indonesia Heritage Foundation, Ediana Putri. Dalam kesempatan ini, Ediana menyampaikan bahwa pola asuh dalam keluarga untuk pencegahan stunting dapat dilakukan dengan cara Cium, Usap, dan Peluk (CUP).

Di akhir sesi, Brian dan para peserta yang mengenakan kaos dengan warna khas kampanye cegah stunting berfoto bersama, menandakan dimulainya upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Bone berdasarkan pemahaman yang lebih baik dan menyeluruh.

oa3

 

Tinggalkan Balasan