Rabu, 16 Oktober 2019
Politik

Inkonsistensi Pendukung Kandidat Sikapi Hasil Quick Count

“Saat kandidat yang didukungnya dinyatakan unggul oleh quick count mereka mendukung dengan lantang, lalu saat kandidat yang didukungnya kalah dalam quick count, mereka memaki bahkan menuduh lembaga survei bayaran.

Jakarta — Perhelatan pilpres 2019 telah berjalan dengan baik dan proses rekapitulasi penghitungan suara dari tiap TPS sedang berjalan menuju level di atasnya. Namun demikian masyarakat telah dibantu dengan munculnya hasil hitung cepat atau quick count berbagai lembaga survei. Lembaga Survei Konsep Indonesia (Konsepindo) Research & Consulting melalui Quick Count yang mereka gelar menyatakan Jokowi-Ma’ruf Amin unggul atas pasangan Prabowo-Sandi. Dengan data suara masuk sebanyak 99,05 persen, paslon nomor urut 01 itu mendapatkan suara sebanyak 53,9 persen sedangkan paslon nomor urut 2 mendapatkan 46,1 persen suara.

Manajer riset Lembaga Survei Konsep Indonesia Safraji menyampaikan, kehadiran Quick Count dengan berbasiskan metode ilmiah yang mampu menghitung secara cepat dan akurat hasil pemilihan umum pada hari pemungutan suara akan dapat memenuhi rasa ingin tahu masyarakat mengenai hasil Pemilu, di sisi lain juga bisa digunakan sebagai data pembanding perhitungan resmi KPU. Quick Count berfungsi sebagai kontrol yang dapat meminimalisir kecurangan dalam penghitungan suara. Quick Count atau hitung cepat merupakan teknik pemantauan hasil penghitungan suara di TPS yang dilakukan secara ilmiah.

“Quick Count adalah salah satu alternatif untuk memberikan informasi yang cepat dan akurat mengenai hasil Pemilu. Selain memenuhi rasa ingin tahu masyarakat. Quick Count juga penting untuk memverifikasi dan mengecek kemungkinan kecurangan selama penghitungan suara. Dengan perhitungan statistik dan berbasiskan teknologi data, Quick Count merupakan cara yang paling cepat, praktis, mudah, akurat, dan dapat dipercaya untuk mengetahui hasil Pemilu,” ujarnya kepada wartawan di kantornya di kawasan BSD City, Jum’at (19/4).

Safraji menambahkan, berpijak pada pengalaman beberapa Pemilu baik di tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten/Kota, quick count telah terbukti menghasilkan data yang tidak jauh berbeda dengan hasil penghitungan yang dilakukan oleh KPU dengan menyertakan semua TPS. “Prinsipnya adalah pada penggunaan metode yang benar dan prosedur yang ketat. Konsepindo sendiri untuk Quick Count pilpres 2019 turun di 2.000 TPS. Sampel dipilih menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar ± 1 persen, pada tingkat kepercayaan 99 persen,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai banyaknya pendukung Prabowo yang tak mempercayai hasil quick count, Safraji menilai hal itu bukan masalah. Menurutnya lembaga survei hanya menyajikan data, mau dicerna atau tidak, itu hak masyarakat. Hanya saja menurutnya, setelah melihat sosial media, banyak juga masyarakat yang standar ganda. “Saat kandidat yang didukungnya dinyatakan unggul oleh quick count mereka mendukung dengan lantang, lalu saat kandidat yang didukungnya kalah dalam quick count, mereka memaki bahkan menuduh lembaga survei bayaran. Contoh itu bisa dilihat saat quick count pilkada DKI, semua percaya saat itu. Yang unggul mengakui, yang kalah juga mengakui,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan