Senin, Juni 17, 2019
Pemerintahan

Denni Purbasari: Jajak Pendapat, Refleksi Pilihan Rasional Masyarakat

JAKARTA – Hasil termutakhir jajak pendapat Pilpres dari berbagai lembaga survei memperlihatkan, pasangan Jokowi-Amin unggul di kisaran 55%. “Hasil jajak pendapat ini refleksi dari rational choice masyarakat bahwa kinerja ekonomi Indonesia bagus dalam empat tahun terakhir,” ujar Denni Puspa Purbasari di talkshow jelang debat Capres-Cawapres terakhir di Kompas TV, Sabtu, 10 April 2018.

Deputi III Kepala Staf Kepresidenan tersebut mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi naik, bersamaan dengan penurunan angka kemiskinan dan ketimpangan. “Ini menunjukkan, pertumbuhan ekonomi kita adalah pertumbuhan yang berkualitas,” ungkap Denni.

Tak cuma itu, inflasi di zaman Jokowi juga yang terendah sepanjang sejarah Indonesia, yakni rata-rata 3,28 persen. Sedangkan, rata-rata inflasi di era SBY sebesar 7,25 persen dan zaman Soeharto lebih tinggi lagi, yakni 17,25 persen.

“Dari angka itu, yang bisa dirasakan secara riil (oleh masyarakat), harga bahan pokok selama Lebaran dan tidak Lebaran, sama,” kata Denni, Doktor ekonomi dari University of Colorado at Boulder, ketika ditanya perbedaan paling signifikan antara era Jokowi dibandingkan sebelumnya.

Perbedaan nyata lainnya, masyarakat miskin tidak lagi takut untuk datang berobat ke fasilitas kesehatan dengan adanya Kartu Indonesia Sehat dan BPJS Kesehatan. Saat ini, sebanyak 220 juta jiwa telah terdaftar sebagai anggota BPJS Kesehatan.

Membalik tren pertumbuhan

Memang, pertumbuhan ekonomi meleset dari target pertumbuhan economi yang dipatok dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang sebesar 7 persen. Menurut Denni, ini terjadi lantaran RPJMN disusun ketika ekonomi global masih sangat positif.

Namun, ketika Jokowi terpilih, ternyata kondisi global berubah signifikan, Ekonomi China tadinya tumbuh di kisaran 10 persen, sekarang hanya tumbuh 6,5 persen. Suku bunga Amerika Serikat, yang semula 0,25 persen, kini sudah naik ke 2,25 persen. Harga-harga komoditas yang tadinya tinggi, juga sempat turun tajam.

“RPJMN disusun bersama-sama oleh Bappenas dan Presiden terpilih. Saya perlu sampaikan, ekonom bukan peramal, bukan ahli nujum. Apa yang kita targetkan saat itu adalah berdasarkan kondisi saat itu,” kata Denni.

Namun, akademisi Universitas Gadjah Mada ini keberatan apabila pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir dikatakan stagnan. Sebab, perbedaan angka di belakang koma bisa sangat signifikan maknanya. “Tidak usah saya yang komentar. Christine Lagarde (Direktur IMF) merevisi target pertumbuhan ekonomi global turun dari 3,5 persen jadi 3,3 persen saja, reaksinya sudah begitu,” cetus Denni.kom4

Pada tahun pertama pemerintahan Jokowi, ekonomi Indonesia masih melanjutkan penurunan pertumbuhan yang terjadi sejak 2011. Namun, pemerintahan Jokowi berhasil membalik tren ini sehingga terus naik pertumbuhannya menjadi 5,17 persen. Artinya, ada perbedaan 38 basis poin dibandingkan pertumbuhan 4,79 persen pada 2015.

“Padahal, kondisi ekonomi itu sulit. Walaupun kondisi itu sulit, Pak Jokowi berhasil membalikkan trajectory itu,” kata peraih gelar Master ekonomi dari University of Illinois at Urbana-Champaign tersebut.

Daya beli tetap naik

kom1Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri pun sepakat, tingkat pertumbuhan saat ini cukup baik di tengah berbagai tantangan global. Ia pun menyebut, daya beli masyarakat masih baik. Sebab, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, konsumsi masyarakat masih naik, sekitar 5 persen secara riil.

“Kenapa saya percaya dengan data BPS, karena BPS mengambil sampel dari seluruh Indonesia. Tapi, kalau ada beberapa masyarakat yang tidak puas, tentu saja ada. Karena, psikologis masyarakat itu kalau perbaikannya tidak fantastis, psikologisnya seperti tidak ada perbaikan,” ujar Faisal.

Padahal, kenyataannya, upah pekerja terus naik. Sementara, tarif TransJakarta dan kereta Jadebotabek, misalnya, tidak naik. “Tahun lalu, saya terbang 200 kali. Saya ke Papua, harga semen yang tadinya Rp 1 juta, sekarang Rp 200.000,” kata Faisal.

Salah satu kunci untuk pertumbuhan tersebut adalah infrastruktur, bukan hanya jalan tol, bandara, dan tol laut, tapi juga infrastruktur digital. Dengan demikian, tercipta konektivitas, sehingga juga bisa menekan biaya logistik yang diperlukan industri untuk tumbuh.

“Kita ingin lebih baik lagi. Good is not enough when better is possible. Pekerjaan belum selesai,” tandas Hendrawan Pratikno, jurubicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin.

kom3

 

 

Tinggalkan Balasan